Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label infrastruktur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

KARAKTERISTIK INFRASTRUKTUR DAN FASILITAS

2.2.3     Karakteristik Infrastruktur dan Fasilitas
Kondisi infrastruktur, fasilitas, dan utilitas merupakan sarana pendukung aktivitas penduduk. Tanpa adanya ketiga hal tersebut akan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kecamatan Bogorejo yang terbagi atas beberapa desa juga telah dilengkapi infrastruktur, fasilitas, dan utilitas yang berbeda-beda tiap desanya.
·                Infrastruktur
Gayam
Desa Gayam memiliki infrastruktur berupa jalan yang pada tahun 2010 telah diperbaiki melalui dana PNPM. Jalan lingkungan ini telah diperbaiki dengan betonisasi sehingga lebih memudahkan mobilisasi penduduk Desa Gayam. Di sisi kanan dan kiri jalan lingkungan desa ini juga terdapat drainase yang masih sederhana sehingga mampu mengalirkan aliran air saat musim hujan. Kondisi pengelolaan persampahan di desa ini juga masih sangat sederhana. Setiap penduduk mengelola sampah rumah tangganya masing-masing dengan dikubur di pekarangan rumah atau dengan dibakar.

Tempurejo
Infrastruktur yang ada di Desa Tempurejo yaitu berupa jalan lingkungan, drainase di sekitar jalan lingkungan, dan persampahan. Kondisi jalan lingkungan yang ada di Desa Tempurejo ini sudah beraspal namun di beberapa titik terjadi kerusakan aspal. Drainase di sisi jalan lingkungan juga sudah sangat baik untuk mengalirkan aliran air. Kondisi pengelolaan persampahan di desa ini sedikit berbeda dengan kondisi pengelolaan sampah di Desa Gayam. Di desa ini sampah telah dikumpulkan menjadi satu, kemudian dibakar.

Gandu
Desa Gandu memiliki kondisi infrastruktur jalan yang sudah rusak dan tidak adanya penerangan lampu jalan. Selain itu kondisi jalan di desa ini juga cukup terjal sehingga semakin menghambat pergerakan atau mobilisasi penduduk. Sebenarnya modal tenaga masyarakat untuk memperbaiki jalan sudah sangat cukup, namun lagi-lagi kendala finansial yang menghambat pembangunan infrastruktur jalan di sini. Drainase di desa ini juga telah dibangun, namun sepertinya kurang mendapatkan perawatan sehingga tampak kerusakan di beberapa bagian. Pengelolaan sampah di desa ini juga kurang terkoordinir, di beberapa rumah penduduk terlihat sampah yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan kesan yang kumuh pada lingkungan sekitar.


Bogorejo
Desa Bogorejo yang merupakan ibukota Kecamatan Bogorejo ini memiliki kualitas jalan lokal yang sudah beraspal dan dalam kondisi yang baik. Jalan ini menghubungkan langsung Kecamatan Bogorejo dengan Kecamatan Jepon. Di sisi lain, jalan lingkungan di desa ini memiliki lebar jalan yang cukup memadai untuk dilewati 2 mobil secara bersamaan, tetapi kondisinya masih tidak rata dan bergelombang. Kondisi drainase di jalan lingkungan Desa Bogorejo ini cukup baik karena mampu mengarahkan aliran air ketika hujan ke sungai yang membentang di desa ini.
 
Nglengkir
Desa Nglengkir merupakan desa yang terletak di daerah yang cukup tinggi sehingga jalan-jalan yang ada di desa ini cenderung menanjak. Kondisi ini hampir sama dengan kondisi jalan yang ada di Desa Gandu tetapi diperparah dengan kondisinya yang berbatu. Drainase jalan lingkungan yang mampu mengalirkan aliran air di desa ini juga masih sederhana, belum ada pembangunan lebih lanjut mengenai drainase. Pengelolaan persampahan di Desa Nglengkir juga masih dikelola secara mandiri oleh warga namun di desa ini penduduk lebih memilih membakar sampah di pekarangan.

Karang
Karanganyar
Desa Karang dan Desa Karanganyar memiliki kondisi infrastruktur yang hampir sama. Seperti kondisi jalan di kedua desa ini tergolong rata tetapi juga masih berbatu namun tidak separah kondisi jalan di Desa Nglengkir atau pun Desa Gandu. Kondisi drainase juga sudah terbangun dengan baik serta mampu mengalirkan aliran air di desa-desa ini. Drainase di kedua desa ini juga mengalirkan air yang berasal dari bendungan yang ada di Desa Karang. Aliran air tersebut digunakan untuk pengairan sawah di sekitar desa. Sedikit berbeda, pengelolaan sampah di Desa Karang yaitu dengan dibuang kemudian ditimbun. Di Desa Karanganyar, penduduk memilih membakar sampahnya di tanah kosong.


Jurangjero
Desa Jurangjero merupakan desa yang memiliki titik ketinggian paling tinggi dibandingkan dengan desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Bogorejo. Jalan di desa ini memiliki kelerengan yang curam yaitu antara 15 – 40%. Meskipun pada sebagian jalan sudah dilakukan betonisasi, tetapi di beberapa titik terdapat jalan yang terjal dan berbatu kasar. Hal ini benar-benar menghambat mobilisasi penduduk. Pengelolaan sampah di desa ini juga masih dilakukan secara mandiri oleh penduduk, sampah dikumpulkan di tanah kosong kemudian akan ditimbun.

Sendangrejo
Desa Sendangrejo memiliki kondisi jalan yang lebih baik jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Jalan lokal di desa ini sudah dilakukan pengaspalan dan masih dalam kondisi baik. Jalan lingkungan di desa ini juga telah dilakukan betonisasi. Kondisi drainase di sisi jalan juga telah dibangun dengan baik untuk mengalirkan aliran air agar tidak menggenangi jalan. Satu hal yang kurang terkoordinir yaitu masalah pengelolaan sampah penduduk. Penduduk masih membuang sampah di tanah kosong sehingga seringkali merusak pemandangan.

·                Fasilitas
Fasilitas yang ada di desa-desa Kecamatan Bogorejo ini sudah mencukupi kebutuhan penduduk. Fasilitas yang tersedia seperti fasilitas pendidikan berupa gedung sekolah PAUD, TK, Sekolah Dasar, hingga gedung SMA. Selain fasilitas pendidikan ada pula fasilitas kesehatan berupa puskesmas, puskesmas pembantu, dan bidan. Fasilitas lainnya seperti fasilitas peribadatan serta perdagangan dan jasa juga ada di kecamatan ini.
Fasilitaas Bogorejo


Desa yang paling banyak memiliki fasilitas pendukung aktivitas penduduk yaitu Desa Bogorejo. Di desa ini terdapat gedung sekolah, masjid, puskesmas, kantor pos, pasar, dan pertokoan. Hal ini disebabkan oleh peran desa ini sebagai ibukota Kecamatan Bogorejo.








Fasilitas Jurangjero
Dalam hal fasilitas, desa-desa yang lain juga telah memiliki fasilitas-fasilitas dasar seperti fasilitas pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar, fasilitas kesehatan berupa puskesmas pembantu atau bidan, fasilitas peribadatan berupa masjid, hingga pertokoan kecil. Di Desa Jurangjero yang bisa dikatakan merupakan daerah paling sulit untuk dilewati juga telah tersedia fasilitas-fasilitas tersebut bahkan di desa ini terdapat gedung SMP yang sedang diperbaiki.


Bendungan Air Desa Gayam-Karang
Selain itu di dua desa yaitu Desa Gayam dan Desa Karang terdapat fasilitas lain berupa bendungan air yang digunakan untuk irigasi pertanian sawah yang terletak di sekitar bendungan tersebut. Kedua bendungan ini memiliki perbedaan pada sumber airnya. Bendungan di Desa Gayam merupakan bendungan sumber mata air yang berasal dari goa. Bendungan ini terus mengalirkan air untuk irigasi persawahan walaupun pada musim kemarau. Berbeda dengan yang ada di Desa Karang, bendungan di sini merupakan bendungan air hujan. Akibatnya bendungan ini hanya dapat mengairi pertanian sawah hanya pada saat musim penghujan.


·                Utilitas
Utilitas
Dalam hal penyediaan listrik, seluruh desa ini rata-rata telah dialiri listrik 450 watt hingga 900 watt. Di dalam pedesaan ada penduduk yang menggunakan listrik yang berasal langsung dari PLN ada pula yang menumpang listrik dari tetangganya. Dalam penggunaan air bersih, sebagian penduduk menggunakan sumur sebagai air bersih sisanya menggunakan Pamsimas. Beberapa desa memiliki sumur dan Pamsimas yang berasal dari dana PNPM, namun ada pula sumur yang secara mandiri dibangun oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhannya. Di kecamatan ini tidak ada penduduk yang menggunakan PAM karena memang PAM belum masuk ke kecamatan ini. Sama halnya seperti saluran telepon yang belum masuk di Kecamatan Bogorejo. Seluruh warganya saat ini menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi. Dalam hal penyediaan air bersih, hanya ada 2 desa yang menggunakan Pamsimas yaitu Desa Tempurejo dan Desa Sendangrejo. Desa Sendangrejo telah menggunakan Pamsimas sebagai sumber air bersih sejak tahun 2005 dan Desa Tempurejo baru pada tahun 2008.

Senin, 16 Juli 2012

PERMASALAHAN KECAMATAN BOGOREJO


3.2     Permasalahan Kecamatan Bogorejo
3.2.1      Fisik dan Sumberdaya Alam
Potensi hutan jati yang ada di Desa Gayam yang cukup luas yaitu sekitar 2700 Ha dimanfaatkan oleh Dinas Perhutani dengan mengambil hasil blok kayu jati sedangkan ranting dari pohon jati di manfaatkan oleh warga sekitar hutan jati. Namun pemanfaatan hutan jati tersebut belum optimal. Selain itu potensi lain yang kurang pemanfataannya adalah kawasan pegunungan karst yang ada di Desa Gandu. Sebenarnya kawasan karst itu sangatlah berpotensi jika akan dijadikan daerah wisata, tetapi pada kenyataannya keberadaanya tidak di begitu diperdulikan. Kawasan karst tersebut hanya dibiarkan tanpa ada tindakan khusus.
Bendungan Goa Landak yang  terletak di perbatasan antara Desa Karanganyar, Desa Nglengkir dan Desa Karang dulunya memiliki kedalaman sekitar 13 meter kini mengalami pendangkalan menjadi sekitar 3 meter. Hal tersebut dikarenakan rusaknya pintu air yang tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, lumpur yang mengendap di bendungan tersebut tidak dapat turun ke bak penampungan sehingga bendungan menjadi dangkal. Bendungan tersebut hanya dapat mengalirkan air jika pada musim penghujan saja karena air meluap dari batas pintu air yang ada, biasanya air tersebut digunakan untuk irigasi sawah. Tetapi untuk masa kemarau seperti ini air tidak dapat digunakan. Para petani mendapatkan air dari sumur-sumur bor yang dibangun di tengah sawah.
Desa Nglengkir memiliki sumber daya air yang juga melimpah. Sumber air tersebut berada di dalam goa. Sumber air tersebut berjarak 3 Km dari Desa Nglengkir yang berada di dalam gua yang terletak pada pegunungan. Sumber air di goa tersebut jika dialirkan ke seluruh rumah warga di Desa Nglengkir untuk kebutuhan sehari-hari rasanya lebih dari cukup. Tetapi pada kenyataannya, mitos yang masih di percayai oleh warga di Desa Nglengkir sangatlah kuat. Sebelum masa modern, warga Desa Nglengkir pernah melakukan penyedotan sumber daya air tersebut untuk dialiri keseluruh desa dan dimanfaatkan. Namun penyedotan tersebut dihentikan karena adanya kepercayaan dari masyarakat sendiri apabila mengkonsumsi air tersebut akan menimbulkan wabah penyakit. Atas alasan itulah maka penduduk tidak berani untuk memanfaatkan potensi air tersebut, yang sebenarnya desa ini mengalami masalah kekurangan air.
3.2.2     Penggunaan Lahan
Jumlah luas penggunaan lahan Kecamatan Bogorejo adalah 7978,60 Ha. Fungsi kawasan kecamatan ini adalah sebagai pertanian, industri dan pemukiman. Di desa-desa masih banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan.
3.2.3     Populasi/Demografi

 
Permasalahan kependudukan yang terdapat disetiap desa di Kecamatan Bogorejo hampir sama. Rata-rata jumlah penduduk kelompok umur 20-24 tahun setiap desa terbilang sedikit. Hal ini terjadi karena penduduk pada usia tersebut lebih memilih untuk mengadu nasib di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Kondisi seperti ini menyebabkan komposisi setiap desa menjadi tidak seimbang. Justru jumlah penduduk usia 30-49 tahunlah yang tinggi. Hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas penduduk di Kecamatan Bogorejo.
3.2.1      Ekonomi
Permasalahan ekonomi yang paling nampak adalah tingkat ekonomi yang rendah. Tingkat ekonomi yang rendah menyebabkan tingkat pendidikan yang rendah pula. Hal ini disebabkan bahwa warga yang ada tidak dapat mengembangkan potensi yang ada serta tidak sedikit warga yang terlilit hutang. Selain itu faktor yang mempengaruhi adalah banyaknya warga yang memutuskan migrasi dari Bogorejo. Warga berusia produktif apabila memiliki pendidikan yang cukup tinggi (SMA) lebih memilih meninggalkan Bogorejo dan menuju ke kota seperti Surabaya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Sehingga tingkat ketergantungan di Kecamatan Bogorejo tinggi karena warga yang berusia lanjut lebih banyak daripada warga dengan usia produktif.
Pengetahuan yang terbatas membuat warga Bogorejo kurang dapat memanfaatkan potensi yang ada di setiap desa. Tanah pertanian yang subur justru tidak dapat menjadi ujung tombak perekonomian di setiap desa di Bogorejo. Pengelolaan yang masih konvensional mengakibatkan hasil panen yang kurang maksimal. Potensi hutan yang ada juga masih belum dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.
3.2.2     Infrastruktur dan Fasilitas
Infrastruktur merupakan pendukung utama berkembangnya aktivitas perkotaan di suatu wilayah. Tanpa adanya ketiga hal tersebut akan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Beberapa permasalahan mengenai infratsruktur dan fasilitas di desa-desa yang yang ada di Kecamatan Bogorejo adalah sebagai berikut.
·                Jalan
Kondisi jalan lokal di desa-desa masih sangat buruk. Jalan yang ada berupa batu batu kerikil maupun kerakal yang disusun menjadi jalan dengan topografi yang beragam. Kondisi jalan lingkungan yang ada di Desa Tempurejo sudah beraspal namun di beberapa titik terjadi kerusakan aspal. Desa Gandu memiliki kondisi infrastruktur jalan yang sudah rusak. Selain itu kondisi jalan di desa ini juga cukup terjal sehingga semakin menghambat pergerakan atau mobilisasi penduduk.
Desa Bogorejo yang merupakan ibukota Kecamatan Bogorejo ini memiliki kualitas jalan lokal yang sudah beraspal dan dalam kondisi yang baik. Jalan ini menghubungkan langsung Kecamatan Bogorejo dengan Kecamatan Jepon. Di sisi lain, jalan lingkungan di desa ini memiliki lebar jalan yang cukup memadai untuk dilewati 2 mobil secara bersamaan, tetapi kondisinya masih tidak rata dan bergelombang. Desa Nglengkir merupakan desa yang terletak di daerah yang cukup tinggi sehingga jalan-jalan yang ada di desa ini cenderung menanjak. Kondisi ini hampir sama dengan kondisi jalan yang ada di Desa Gandu tetapi diperparah dengan kondisinya yang berbatu.
Desa Karang dan Desa Karanganyar memiliki kondisi infrastruktur yang hampir sama. Seperti kondisi jalan di kedua desa ini tergolong rata tetapi juga masih berbatu namun tidak separah kondisi jalan di Desa Nglengkir atau pun Desa Gandu. Desa Jurangjero merupakan desa yang memiliki titik ketinggian paling tinggi dibandingkan dengan desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Bogorejo. Jalan di desa ini memiliki kelerengan yang curam yaitu antara 15 – 40%. Meskipun pada sebagian jalan sudah dilakukan betonisasi, tetapi di beberapa titik terdapat jalan yang terjal dan berbatu kasar. Hal ini benar-benar menghambat mobilisasi penduduk.
·                Persampahan
Desa-desa yang ada di Bogorejo ini tidak terdapat TPS yang seharusnya berfungsi untuk menampung sampah rumah tangga. Setiap penduduk mengelola sampah rumah tangganya masing-masing dengan dikubur di pekarangan rumah atau dengan dibakar. Pengelolaan sampah yang kurang terkoordinir, menyebabkan di beberapa rumah penduduk terlihat sampah yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan kesan yang kumuh pada lingkungan sekitar.
·                Drainase
Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan airyang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Kondisi drainase di Desa Gandu yang kurang mendapatkan perawatan sehingga tampak kerusakan di beberapa bagian.
·                Listrik
Kondisi penerangan di setiap desa hampir sama yaitu minimnya jumlah penerangan jalan terutama baik di jalan utama maupun jalan lokal. Hal tersebut mengakibatkan selain akan mengganggu aktivitas pengguna jalan, juga menimbulkan rawannya tindak kriminalitas terutama pada malam hari.
·                Air bersih
Dalam penggunaan air bersih, sebagian penduduk menggunakan sumur sebagai air bersih sisanya menggunakan Pamsimas. Beberapa desa memiliki sumur dan Pamsimas yang berasal dari dana PNPM, namun ada pula sumur yang secara mandiri dibangun oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhannya. Di kecamatan ini tidak ada penduduk yang menggunakan PAM karena memang PAM belum masuk ke kecamatan ini. Dalam hal penyediaan air bersih, hanya ada 2 desa yang menggunakan Pamsimas yaitu Desa Tempurejo dan Desa Sendangrejo. Pemanfaatan air bersih di Desa- desa Kecamatan Bogorejo ini masih kurang optimal, disebabkan oleh kurangnya teknisi handal/SDM untuk merancang sistem pengelolaan air.
·                Sanitasi
Masalah ketidak tersedianya MCK. Hal ini sering ditemui pada desa-desa yang terbelakang di Bogorejo. Tidak adanya MCK membuat warga terpaksa membuang air besar di sembarang tempat seperti sungai dan lain sebagainya. Ada beberapa warga yan tidak memiliki MCK di dalam rumahnya. Padahal MCK merupakan syarat utama untuk kesehatan. Ketiadaan MCK di dalam rumah menyebabkan tingkat kesehatan warganya rendah. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah kuranganya tenaga medis dan kesadaran warga sendiri.
3.2.6    Kelembagaan masyarakat
Permasalahan kelembagaan yang sangat nampak dari setiap desa adalah tidak aktifnya lagi karang taruna. Hal ini disebabkan karena rata-rata setelah lulus dari SMA pemuda di setiap desa di Kecamatan Bogorejo justru lebih memilih keluar kota untuk mencari pekerjaan. Akibatnya, masyarakat Bogorejo sulit berkembang terutama untuk kaum muda yang masih menetap di Bogorejo.
3.2.7     Aspek Sosial
Tahun ini, terdapat tiga desa yang tidak mendapatkan dana PNPM. Hal ini terjadi karena partisipasi ketiga desa dalam interaksi dalam kecamatan sangat kurang. Selain itu, keterbatasan fasilitas umum juga menjadi masalah yang cukup serius. Kurang MCK menyebabkan tingkat kesehatan masyarakat menjadi rendah. Sulitnya mendapatkan air sering dirasakan ketika musim kemarau tiba, padahal di Bogorejo ini terdapat beberapa sumber mata air.
Tingginya biaya pendidikan juga menyebabkan taraf hidup masyarakat menjadi rendah. Pengetahuan yang sempit menyulitkan masyarakat untuk mengembangkan wilayahnya. Dengan keterampilan yang terbatas tersebut tidak sedikit penduduk yang bermigrasi ke kota besar hanya bekerja sebagai kuli bangunan.

POTENSI KECAMATAN BOGOREJO

3.1      Potensi Kecamatan Bogorejo
Kecamatan Bogorejo terletak pada pegunungan kapur di sebelah timur laut Kabupaten Blora. Pegunungan kapur ini membentang hingga Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Lokasinya yang berada pada perbatasan dua provinsi, Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, membuat Kecamatan Bogorejo ini sering digunakan truk-truk pengangkut kapur sebagai jalur alternatif distribusi pertambangan.
Selain pertambangan, terdapat pula hutan jati milik Perhutani yang terletak pada Desa Gayam. Hutan jati ini merupakan sub bagian dari Perhutani Kebunharjo. Pihak Perhutani dan penduduk Desa Gayam bersama-sama mengembangkan potensi hutan, selain untuk meningkatkan produksi daerah juga untuk menyejahterakan penduduk setempat.
Secara keseluruhan atau secara umum Kecamatan Bogorejo memiliki potensi baik secara alam maupun secara kebudayaan. Potensi yang ada antara lain:
  1. Potensi sumber daya air baik dari gua di Desa Nglengkir maupun bendungan di Desa Karang.
  2. Potensi lahan pertanian yang subur. Produksi pertanian yang utama di Kecamatan Bogorejo adalah padi, palawija dan cabai merah. Produksi tersebut ada yang digunakan untuk keperluan sehari-hari namun ada pula yang dijual
  3. Sumber daya alam berupa pengolahan batu gamping dan batu marmer di Desa Nglengkir
  4. Kebudayaan yang masih terjaga dan perlu dilestarikan serta dapat dijadikan identitas di tingkat nasional dan menjadi daya tarik pengunjung diseluruh desa pada Kecamatan Bogorejo 
  5. Potensi hutan lindung yang dapat dijadikan sebagai paru-paru kota dan bumi perkemahan di Desa Sendangrejo
  6. Mulai tumbuhnya sektor non pertanian berupa perdagangan dan jasa dan industri sebagai mesin yang mendukung sektor basis pertanian di Desa Bogorejo, Desa Karang dan Desa Sendangrejo
  7. Semakin berkembangnya pertumbuhan penduduk di wilayah perdesaan Bogorejo mempengaruhi jumlah penduduk yang menganut agama islam. Mayoritas penduduk di Kecamatan Bogorejo 90% memeluk agama islam, hal ini berpotensi meningkatkan kualitas serta kuantitas kelembagaan agama islam. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin berkembangnya pembangunan masjid dan mushola di wilayah perdesaan Bogorejo. Hampir diseluruh wilayah Bogorejo memiliki masjid dan mushola.
3.2.1      Fisik dan Sumberdaya Alam
Potensi sumberdaya alam yang ada berkaitan dengan ketersediaan air. Ketersediaan air yang dimaksud adalah adanya sumber mata air yang melimpah yang tersebar di beberapa desa, sumber air tersebut sebagian besar digunakan untuk irigasi sawah.
Desa Gayam merupakan salah satu desa yang memiliki sumber mata air, mata air tersebut berasal dari tengah hutan dimana mata air tersebut dibendung lalu dialirkan ke sawah sebagai irigasi dengan sistem buka tutup. Sistem buka tutup yaitu dengan membuka pintu besi jika ingin mengalirkan air untuk irigasi dan menutup pintu besi jika tidak digunakan lalu air tersebut mengalir ke selokan sebagai aliran air dari mata air.
Selain potensi sumber daya air, desa ini juga memiliki potensi yang hutan jati yang cukup luas yaitu sekitar 2700 Ha. Hutan jati tersebut dimiliki oleh Dinas Perhutani dari 3 administrasi wilayah yaitu Kabupaten Blora, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Rembang. Hasil balok kayu jati dimanfaatkan oleh Dinas Perhutani sedangkan ranting dari pohon jati di manfaatkan oleh warga sekitar hutan jati. Dahulu pohon jati yang ada disana sering dicuri oleh warga sekitar. Hal tersebut dikarenakan masyarakat kurang peduli dengan keberadaan hutan tersebut. Oleh sebab itu, sering dilakukan adanya sosialisasi akan pentingnya keberadaan hutan jati. Alhasil sekarang pencurian terhadap hutan jati mulai berkurang.
Selanjutnya adalah bendungan Goa Landak. Bendungan tersebut terletak di perbatasan antara Desa Karanganyar, Desa Nglengkir dan Desa Karang. Bendungan yang dulunya memiliki kedalaman sekitar 13 meter kini mengalami pendangkalan menjadi sekitar 3 meter. Hal tersebut dikarenakan rusaknya pintu air yang tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, lumpur yang mengendap di bendungan tersebut tidak dapat turun ke bak penampungan sehingga bendungan menjadi dangkal. Bendungan tersebut hanya dapat mengalirkan air jika pada musim penghujan saja karena air meluap dari batas pintu air yang ada, biasanya air tersebut digunakan untuk irigasi sawah. Tetapi untuk masa kemarau air tidak dapat digunakan. Para petani mendapatkan air dari sumur-sumur bor yang dibangun di tengah sawah. Mereka menyiram air dengan cara tradisional yaitu dengan cara menyiraminya satu per satu.
Desa Nglengkir memiliki sumber daya air yang juga melimpah. Sumber air tersebut berada di dalam goa. Sumber air tersebut berjarak 3 km dari Desa Nglengkir yang berada di dalam goa yang terletak pada pegunungan. Sumber air tersebut, mampu memenuhi kebutuhan air bersih di desa tersebut.
Potensi lain adalah adanya kawasan pegunungan karst. Kawasan karst merupakan kawasan batuan karbonat yang memperlihatkan bentuk lapisan karst. Kawasan karst tersebut berada  di sepanjang jalan di Desa Gandu di sisi kanan dan kirinya. Desa Gandu memiliki topografi sebesar 15-40% dengan ketinggian sekitar 400 m di atas permukaan laut di mana daerah tersebut merupakan daerah pegunungan.
3.2.2     Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kecamatan Bogorejo terbagi menjadi beberapa kawasan yaitu kawasan perdagangan, pemukiman, tegalan, hutan jati, dan sawah. Penggunaan lahan untuk pemukiman paling luas berada di Desa Tempurejo. Hal ini didukung oleh topografi Desa Tempurejo yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah datar. Selain itu Desa Tempurejo memiliki jenis tanah mediterania yang tidak cocok untuk lahan pertanian sehingga penggunaan lahannya lebih dialokasikan untuk pemukiman.
Jika dilihat lebih luas, sebagian besar penggunaan lahan di Kecamatan Bogorejo digunakan untuk lahan pertanian. Komoditas utama pertanian di Kecamatan Bogorejo adalah cabai merah, padi, dan palawija. Selain digunakan untuk lahan pertanian, penggunaan lahan di Kecamatan Bogorejo khususnya di jalan utama Desa Bogorejo berfungsi sebagai kawasan perdagangan dan jasa.
3.2.3     Populasi/Demografi
Berdasarkan data penduduk menurut mata pencaharian Kecamatan Bogorejo tahun 2010, Kecamatan Bogorejo memiliki jumlah penduduk yang sebagian besar yaitu sekitar 80% dari jumlah penduduk kecamatan ini berprofesi sebagai petani. Hal ini akan berpotensi sebagai penggerak ekonomi utama Kecamatan Bogorejo.  Selain itu, sekitar 90% dari jumlah penduduk Kecamatan Bogorejo memeluk agama islam. Hal ini tentu akan berpotensi akan terbentuknya kelembagaan/organisasi islam. Kondisi ini telah terbukti dengan perkembangan pembangunan fasilitas masjid maupun mushola yang sangat pesat. Acara-acara keagamaan pun semakin tumbuh berupa pengajian.  
3.2.4    Ekonomi
Desa Bogorejo, awalnya desa ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Aktivitas ekonomi yang dominan pada wilayah perdesaan Bogorejo yaitu sektor pertanian. Subsektor yang paling berkembang yaitu tanaman dan peternakan. Potensi pertanian tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Bogorejo, baik pelayanan yang berhubungan dengan sarana produksi, jasa distribusi, maupun pelayanan sosial ekonomi lainnya sehingga masyarakat setempat tidak harus menuju ke kota untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Dengan demikian akan tercipta pusat-pusat pelayanan baru seperti di Desa Bogorejo, Karang dan Sendangrejo.  
Selain potensi pertanian, mulai tumbuhnya sektor-sektor ekonomi lainnya seperti industri kecil, kawasan komersial, perdagangan dan jasa menyebabkan perubahan struktur ruang yang sebagian beralih fungsi menjadi kawasan perkotaan.
Perkembangan kegiatan pertanian dan kegiatan berbasis sumberdaya alam dibagian non-metropolis menciptakan permintaan terhadap barang dan jasa yang hanya ada di bagian metropolis (Desa Bogorejo). Barang dan jasa ini mencakup berbagai kebutuhan seperti perbankan, keuangan, grosir, dan jasa berorientasi konsumen.
3.2.5     Infrastruktur dan Fasilitas
Ketersediaan infrastruktur yang memadai merupakan salah satu syarat tercapainya tujuan pembangunan, terutama pembangunan ekonomi. Infrastruktur yang baik menciptakan akses yang lebih murah kepada masyarakat perdesaan Bogorejo baik berupa akses transportasi, komunikasi maupun energi. Ada tiga manfaat kebeadaan infrastruktur bagi wilayah perdesaan Bogorejo. Pertama, penyediaan infrastruktur dapat membantu masyarakat perdesaan Bogorejo untuk memiliki lokasi yang lebih baik, memungkinkan kelompok miskin mendapatkan fasilitas yang lebih baik, dan meningkatkan partisipasi mereka dalam kehidupan sosial politik. Kedua, infrastruktur yang baik dapat meningkatkan modal sosial. Kemiskinan mungkin terjadi akibat tingkah laku dan mentalitas, sehingga dengan infastruktur yang memadai dapat diciptakan hubungan diantara komunitas-komunitas yang terisolasi dan masyarakat yang lainnya dapat meningkatkan produktivitas. Ketiga, ketersediaan infrastruktur mengurangi biaya ekonomi yang harus dikeluarkan oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan daya saing (competitiveness) masyarakat diwilayah yang bersangkutan.
Selain infrastruktur yang bersifat fisik, keberadaan infrastruktur ekonomi, pendidikan, dan kesehatan juga dapat menjadi ukuran kemajuan wilayah perdesaan Bogorejo. Investasi untuk infrastuktur yang bersifat hard seperti infrastruktur pertanian, jalan, telekomunikasi, kelistrikan, irigasi mempunyai peranan penting dalam memajukan produksi pertanian perdesaan Bogorejo, dan juga memfasilitasi tumbuhnya infrastruktur yang bersifat soft. Sedangkan, infrastruktur yang bersifat soft (jasa transportasi, keuangan, distribusi, dan pemasaran hewan ternak dan produk-produk pertanian) juga sangat berperan penting dalam pembangunan perdesaan Bogorejo. Manfaat pengembangan infrastruktur yang soft antara lain adalah meningkatnya akses dalam berbagai macam jasa dan pelayanan.
Keberadaan lembaga-lembaga ekonomi dan ketersediaan jasa di perdesaan Bogorejo memberikan gambaran tingkat keberhasilan pembangunan di perdesaan. Keberadaan infrastruktur ekonomi seperti pasar menjamin terjadinya transaksi jual beli (perdagangan) antar sektor ekonomi di perdesaan Bogorejo yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kemudahan akses masyarakat terhadap barang dan jasa. Infrastruktur fisik pendidikan dan kesehatan juga diperlukan dalam menjamin terciptanya sumberdaya manusia yang memadai karena diyakini akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan sangat penting dalam proses pembangunan jangka panjang.
Seluruh jenis infrastruktur tersebut adalah prasyarat sekaligus indikator keberhasilan pembengunan perdesaan. Dengan demikian, keberadaan infrastruktur tersebut dapat digunakan sebagai salah satu indikator pembangunan perdesaan. Dibawah ini adalah indikator pembangunan infrastruktur perdesaan Bogorejo secara lebih detail.
Jalan utama di Kecamatan Bogorejo seperti Jalan Raya Jatirogo sering dilewati berbagai jenis kendaraan, baik kendaraan yang mendistribusikan barang maupun penduduk setempat yang beraktivitas. Jalan yang juga berperan sebagai jalur akses utama desa ini juga dilalui transportasi umum telah dilalui oleh trayek angkutan umum, sehingga pergerakan penduduk semakin mudah.
Rata-rata sistem drainase Kecamatan Bogorejo merupakan sistem drainase terbuka sehingga lebih memudahkan dalam hal perawatan. Apabila dilakukan secara berkala, maka aliran air di wilayah ini juga akan lancar.
Sumber air bersih Kecamatan Bogorejo berasal dari sumur dan Pamsimas. Penggunaan Pamsimas hanya ada di 2 desa yaitu Desa Tempurejo dan Desa Sendangrejo. Penggunaan sumur di desa-desa selain kedua desa di atas karena wilayah-wilayah tersebut mudah dalam mendapatkan air tanah bersih yang terletak tidak terlalu dalam.
Prasarana listrik di Kecamatan Bogorejo seluruhnya telah terlayani oleh PLN dengan daya rata-rata 450 watt hingga 900 watt. Hal ini akan sangat mendukung kegiatan perekonomian seperti perdagangan dan industri serta aktivitas penduduk sehari-hari juga dapat berjalan lancar.
Fasilitas yang ada di desa-desa Kecamatan Bogorejo ini sudah mencukupi kebutuhan penduduk. Fasilitas yang tersedia seperti fasilitas pendidikan berupa gedung sekolah PAUD, TK, Sekolah Dasar, hingga gedung SMA. Selain fasilitas pendidikan ada pula fasilitas kesehatan berupa puskesmas, puskesmas pembantu, dan bidan. Fasilitas lainnya seperti fasilitas peribadatan serta perdagangan dan jasa juga ada di kecamatan ini.
Desa yang paling banyak memiliki fasilitas pendukung aktivitas penduduk yaitu Desa Bogorejo. Di desa ini terdapat gedung sekolah, masjid, puskesmas, kantor pos, pasar, dan pertokoan. Hal ini disebabkan oleh peran desa ini sebagai ibukota Kecamatan Bogorejo.
Dalam hal fasilitas, desa-desa yang lain juga telah memiliki fasilitas-fasilitas dasar seperti fasilitas pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar, fasilitas kesehatan berupa puskesmas pembantu atau bidan, fasilitas peribadatan berupa masjid, hingga pertokoan kecil. Di Desa Jurangjero yang bisa dikatakan merupakan daerah paling sulit untuk dilewati juga telah tersedia fasilitas-fasilitas tersebut bahkan di desa ini terdapat gedung SMP yang sedang diperbaiki.
3.2.6    Kelembagaan Masyarakat
Kelembagaan sebagai aturan main (rule of game) dan organisasi, berperan sangat penting dalam mengatur penggunaan/alokasi sumberdaya secara efisien, sumberdaya merata, dan berkelanjutan. Keberadaan lembaga formal dan informal di perdesaan menjadi salah satu modal sosial yang harus dibentuk. Modal sosial dapat menjadi satu-satunya pilihan ketika masalah-masalah ekonomi tidak dapat lagi diselesaikan dengan mekanisme pasar. Dalam kegiatan transaksi, modal sosial dapat menjadi basis sumberdaya ekonomi yang mendukung keberhasilan pembangunan di wilayah perdesaan. Kelembagaan formal maupun informal dapat menyelesaikan kegiatan-kegiatan ekonomi yang berbasiskan transaksi menjadi sebuah hubungan yang didasarkan pada kepercayaan dan norma masyarakat.
Tantangan yang dihadapi perdesaan adalah penciptaan lembaga-lembaga baru berdasarkan mutual learning antara kelompok dalam desa tersebut yaitu produsen lokal, penduduk lokal, pemerhati lingkungan,dan pemilik tanah. Lembaga baru ini sebaiknya tidak bergantung pada bantuan pemerintah daerah dan harus dapat mengidentifikasi dan mengimplementasikan solusi-solusi yang kooperatif untuk dapat membantu masyarakat desa menaikkan standar hidup mereka. Secara teoritis dapat disebutkan bahwa keberadaan modal sosial dalam bentuk lembaga-lembaga formal dan informal dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas program pembangunan pemerintah di wilayah perdesaan.
3.2.7     Aspek Sosial
Penduduk Kecamatan Bogorejo memiliki sifat gotong royong serta kerukunan antar warga yang masih terjaga dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan pembangunan jalan PNPM, pengajian, dan arisan warga setempat yang dilakukan rutin setiap bulannya. Sifat gotong royong yang tinggi ini menjadikan koordinasi antar penduduk semakin mudah, terutama dalam penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pembangunan desa maupun masalah sosial lainnya.