Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label karakteristik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakteristik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

KARAKTERISTIK INFRASTRUKTUR DAN FASILITAS

2.2.3     Karakteristik Infrastruktur dan Fasilitas
Kondisi infrastruktur, fasilitas, dan utilitas merupakan sarana pendukung aktivitas penduduk. Tanpa adanya ketiga hal tersebut akan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kecamatan Bogorejo yang terbagi atas beberapa desa juga telah dilengkapi infrastruktur, fasilitas, dan utilitas yang berbeda-beda tiap desanya.
·                Infrastruktur
Gayam
Desa Gayam memiliki infrastruktur berupa jalan yang pada tahun 2010 telah diperbaiki melalui dana PNPM. Jalan lingkungan ini telah diperbaiki dengan betonisasi sehingga lebih memudahkan mobilisasi penduduk Desa Gayam. Di sisi kanan dan kiri jalan lingkungan desa ini juga terdapat drainase yang masih sederhana sehingga mampu mengalirkan aliran air saat musim hujan. Kondisi pengelolaan persampahan di desa ini juga masih sangat sederhana. Setiap penduduk mengelola sampah rumah tangganya masing-masing dengan dikubur di pekarangan rumah atau dengan dibakar.

Tempurejo
Infrastruktur yang ada di Desa Tempurejo yaitu berupa jalan lingkungan, drainase di sekitar jalan lingkungan, dan persampahan. Kondisi jalan lingkungan yang ada di Desa Tempurejo ini sudah beraspal namun di beberapa titik terjadi kerusakan aspal. Drainase di sisi jalan lingkungan juga sudah sangat baik untuk mengalirkan aliran air. Kondisi pengelolaan persampahan di desa ini sedikit berbeda dengan kondisi pengelolaan sampah di Desa Gayam. Di desa ini sampah telah dikumpulkan menjadi satu, kemudian dibakar.

Gandu
Desa Gandu memiliki kondisi infrastruktur jalan yang sudah rusak dan tidak adanya penerangan lampu jalan. Selain itu kondisi jalan di desa ini juga cukup terjal sehingga semakin menghambat pergerakan atau mobilisasi penduduk. Sebenarnya modal tenaga masyarakat untuk memperbaiki jalan sudah sangat cukup, namun lagi-lagi kendala finansial yang menghambat pembangunan infrastruktur jalan di sini. Drainase di desa ini juga telah dibangun, namun sepertinya kurang mendapatkan perawatan sehingga tampak kerusakan di beberapa bagian. Pengelolaan sampah di desa ini juga kurang terkoordinir, di beberapa rumah penduduk terlihat sampah yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan kesan yang kumuh pada lingkungan sekitar.


Bogorejo
Desa Bogorejo yang merupakan ibukota Kecamatan Bogorejo ini memiliki kualitas jalan lokal yang sudah beraspal dan dalam kondisi yang baik. Jalan ini menghubungkan langsung Kecamatan Bogorejo dengan Kecamatan Jepon. Di sisi lain, jalan lingkungan di desa ini memiliki lebar jalan yang cukup memadai untuk dilewati 2 mobil secara bersamaan, tetapi kondisinya masih tidak rata dan bergelombang. Kondisi drainase di jalan lingkungan Desa Bogorejo ini cukup baik karena mampu mengarahkan aliran air ketika hujan ke sungai yang membentang di desa ini.
 
Nglengkir
Desa Nglengkir merupakan desa yang terletak di daerah yang cukup tinggi sehingga jalan-jalan yang ada di desa ini cenderung menanjak. Kondisi ini hampir sama dengan kondisi jalan yang ada di Desa Gandu tetapi diperparah dengan kondisinya yang berbatu. Drainase jalan lingkungan yang mampu mengalirkan aliran air di desa ini juga masih sederhana, belum ada pembangunan lebih lanjut mengenai drainase. Pengelolaan persampahan di Desa Nglengkir juga masih dikelola secara mandiri oleh warga namun di desa ini penduduk lebih memilih membakar sampah di pekarangan.

Karang
Karanganyar
Desa Karang dan Desa Karanganyar memiliki kondisi infrastruktur yang hampir sama. Seperti kondisi jalan di kedua desa ini tergolong rata tetapi juga masih berbatu namun tidak separah kondisi jalan di Desa Nglengkir atau pun Desa Gandu. Kondisi drainase juga sudah terbangun dengan baik serta mampu mengalirkan aliran air di desa-desa ini. Drainase di kedua desa ini juga mengalirkan air yang berasal dari bendungan yang ada di Desa Karang. Aliran air tersebut digunakan untuk pengairan sawah di sekitar desa. Sedikit berbeda, pengelolaan sampah di Desa Karang yaitu dengan dibuang kemudian ditimbun. Di Desa Karanganyar, penduduk memilih membakar sampahnya di tanah kosong.


Jurangjero
Desa Jurangjero merupakan desa yang memiliki titik ketinggian paling tinggi dibandingkan dengan desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Bogorejo. Jalan di desa ini memiliki kelerengan yang curam yaitu antara 15 – 40%. Meskipun pada sebagian jalan sudah dilakukan betonisasi, tetapi di beberapa titik terdapat jalan yang terjal dan berbatu kasar. Hal ini benar-benar menghambat mobilisasi penduduk. Pengelolaan sampah di desa ini juga masih dilakukan secara mandiri oleh penduduk, sampah dikumpulkan di tanah kosong kemudian akan ditimbun.

Sendangrejo
Desa Sendangrejo memiliki kondisi jalan yang lebih baik jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Jalan lokal di desa ini sudah dilakukan pengaspalan dan masih dalam kondisi baik. Jalan lingkungan di desa ini juga telah dilakukan betonisasi. Kondisi drainase di sisi jalan juga telah dibangun dengan baik untuk mengalirkan aliran air agar tidak menggenangi jalan. Satu hal yang kurang terkoordinir yaitu masalah pengelolaan sampah penduduk. Penduduk masih membuang sampah di tanah kosong sehingga seringkali merusak pemandangan.

·                Fasilitas
Fasilitas yang ada di desa-desa Kecamatan Bogorejo ini sudah mencukupi kebutuhan penduduk. Fasilitas yang tersedia seperti fasilitas pendidikan berupa gedung sekolah PAUD, TK, Sekolah Dasar, hingga gedung SMA. Selain fasilitas pendidikan ada pula fasilitas kesehatan berupa puskesmas, puskesmas pembantu, dan bidan. Fasilitas lainnya seperti fasilitas peribadatan serta perdagangan dan jasa juga ada di kecamatan ini.
Fasilitaas Bogorejo


Desa yang paling banyak memiliki fasilitas pendukung aktivitas penduduk yaitu Desa Bogorejo. Di desa ini terdapat gedung sekolah, masjid, puskesmas, kantor pos, pasar, dan pertokoan. Hal ini disebabkan oleh peran desa ini sebagai ibukota Kecamatan Bogorejo.








Fasilitas Jurangjero
Dalam hal fasilitas, desa-desa yang lain juga telah memiliki fasilitas-fasilitas dasar seperti fasilitas pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar, fasilitas kesehatan berupa puskesmas pembantu atau bidan, fasilitas peribadatan berupa masjid, hingga pertokoan kecil. Di Desa Jurangjero yang bisa dikatakan merupakan daerah paling sulit untuk dilewati juga telah tersedia fasilitas-fasilitas tersebut bahkan di desa ini terdapat gedung SMP yang sedang diperbaiki.


Bendungan Air Desa Gayam-Karang
Selain itu di dua desa yaitu Desa Gayam dan Desa Karang terdapat fasilitas lain berupa bendungan air yang digunakan untuk irigasi pertanian sawah yang terletak di sekitar bendungan tersebut. Kedua bendungan ini memiliki perbedaan pada sumber airnya. Bendungan di Desa Gayam merupakan bendungan sumber mata air yang berasal dari goa. Bendungan ini terus mengalirkan air untuk irigasi persawahan walaupun pada musim kemarau. Berbeda dengan yang ada di Desa Karang, bendungan di sini merupakan bendungan air hujan. Akibatnya bendungan ini hanya dapat mengairi pertanian sawah hanya pada saat musim penghujan.


·                Utilitas
Utilitas
Dalam hal penyediaan listrik, seluruh desa ini rata-rata telah dialiri listrik 450 watt hingga 900 watt. Di dalam pedesaan ada penduduk yang menggunakan listrik yang berasal langsung dari PLN ada pula yang menumpang listrik dari tetangganya. Dalam penggunaan air bersih, sebagian penduduk menggunakan sumur sebagai air bersih sisanya menggunakan Pamsimas. Beberapa desa memiliki sumur dan Pamsimas yang berasal dari dana PNPM, namun ada pula sumur yang secara mandiri dibangun oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhannya. Di kecamatan ini tidak ada penduduk yang menggunakan PAM karena memang PAM belum masuk ke kecamatan ini. Sama halnya seperti saluran telepon yang belum masuk di Kecamatan Bogorejo. Seluruh warganya saat ini menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi. Dalam hal penyediaan air bersih, hanya ada 2 desa yang menggunakan Pamsimas yaitu Desa Tempurejo dan Desa Sendangrejo. Desa Sendangrejo telah menggunakan Pamsimas sebagai sumber air bersih sejak tahun 2005 dan Desa Tempurejo baru pada tahun 2008.

Senin, 16 Juli 2012

KONDISI ASPEK LAIN


2.2     Kondisi Aspek Lain
2.3.1     Kelembagaan/Organisasi
Lembaga adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mewujudkan nilai-nilai dan tata cara umum tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat tertentu. Lembaga termasuk diantara norma-norma masyarakat yang paling resmi dan bersifat memaksa. Kalau kebiasaan dan tata kelakuan disekitar suatu kegiatan yang penting menjadi terorganisir ke dalam sistem keyakinan dan perilaku yang sangat formal dan mengikat , maka suatu lembaga telah berkembang. Oleh karena itu suatu lembaga mencakup :
1.        Seperangkat perilaku yang telah distandarisasi dengan baik
2.       Serangkaian tata kelakuan, sikap, nilai- nilai yang mendukung dan
3.       Sebentuk tradisi, ritual, upacara dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.
Masyarakat Kecamatan Bogorejo tentunya memilki kelembagaan sendiri agar masyarakat di kecamatan tersebut dapat maju dan meningkatkan produktifitas kecamatan. Setiap desa memiliki beberapa lembaga yang mengontrol dan membantu warga.
·                Partai Politik
Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri dalam hal finansial, memiliki platform atau haluan politik tersendiri, mengusung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut menyumbang political development sebagai suprastruktur politik.
Partai politik telah memasuki seluruh wilayah desa Kecamatan Bogorejo namun tidak terlalu kuat pengaruhnya. Mungkin ini disebabkan oleh jumlah warga yang sedikit sehingga partai politik tidak akan mendapat banyak suara jika berada di kecamatan ini.

·                Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)
Guna mengatur interaksi yang terjadi di dalam masyarakat desa hutan, biasanya mereka membentuk lembaga. Melalui lembaga ini, diharapkan dapat dijadikan wadah bagi sekumpulan yang berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan bersama dan yang berfungsi mengatur akan kebutuhan bersama tersebut dengan nilai dan aturan bersama. Lembaga yang menaungi masyarakat desa hutan biasa disebut dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan atau LMDH. Lembaga masyarakat desa hutan adalah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat desa yang berada di dalam atau di sekitar hutan untuk mengatur dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi terhadap hutan dalam konteks sosial, ekonomi, politik dan budaya (Awang, 2008).
Kegiatan yang dilakukan oleh LMDH adalah patroli hutan, penyuluhan, panen hasil hutan, dan penanaman kembali. Patroli hutan dilakukan untuk mencegah terjadinya penebangan liar yang menimbulkan kerugian pada LMDH. Penyuluhan dilakukan agar warga mengerti mengenai tugas LMDH dan konsekuensi dari melanggar aturan LMDH. Panen hasil hutan dilakukan untuk mendapat dana dari hasil penebangan. Setelah itu menanam pohon baru agar di masa depan bisa dipanen lagi. Hasil panen biasanya berupa kayu jati. Desa yang memiliki LMDH adalah Desa Gayam, Desa Sendangrejo, dan Desa Nglengkir.
·                Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)
Lembaga Pemberdayaan Desa, disebut juga sebagai Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa adalah lembaga masyarakat di Desa atau Kelurahan yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat dan merupakan wahana partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang  memadukan pelaksanaan pelbagai kegiatan Pemerintah dan prakarsa serta swadaya gotong royong masyarakat dalam segala aspek  kehidupan dan penghidupan dalam rangka mewujudkan Ketahanan Nasional, yang meliputi aspek-aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama dan pertahanan keamanan. Desa yang memilki LKMD adalah Desa Karang, Desa Gayam, Desa Sendangrejo.
·                Kelompok Tani
Menurut Departemen Pertanian, Kelompok Tani adalah Kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan keakraban dan keserasian, erta kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian untuk bekerja sama meningkatkan produktivitas usaha tani dan kesejahteraan anggotanya. Seluruh desa di Kecamatan Bogorejo memiliki Kelompok Tani. Besarnya jumlah petani yang berada di Kecamatan Bogorejo tentu memicu keberadaan Kelompok Tani di kecamatan ini. Dengan adanya lembaga ini, masyarakat dapat meningkatkan hasil pertanian dari diskusi, kerja sama, dan berbagi pengetahuan lainnya.
·                Karang Taruna
Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan di Indonesia. Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa/Kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial. Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya mengembangkan kegiatan ekonomis produktif dengan pendayagunaan semua potensi yang tersedia dilingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah ada. Sebagai organisasi kepemudaan, Karang Taruna berpedoman pada Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga dimana telah pula diatur tentang struktur penggurus dan masa jabatan dimasing-masing wilayah mulai dari Desa/Kelurahan sampai pada tingkat Nasional. Semua ini wujud dari pada regenerasi organisasi demi kelanjutan organisasi serta pembinaan anggota Karang Taruna baik dimasa sekarang maupun masa yang akan datang.
Karang Taruna beranggotakan pemuda dan pemudi (dalam AD/ART nya diatur keanggotaannya mulai dari pemuda/i berusia mulai dari 11 - 45 tahun) dan batasan sebagai Pengurus adalah berusia mulai 17 - 35 tahun. Karang Taruna didirikan dengan tujuan memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada para remaja, misalnya dalam bidang keorganisasian, ekonomi, olahraga, ketrampilan, advokasi, keagamaan dan kesenian.
Di Kecamatan Bogorejo, Karang Taruna sudah tidak aktif lagi karena sedikitnya remaja yang mau menjadi pengurus Karang Taruna dan sebagian besar dari mereka sudah pergi meninggalkan kecamatan untuk mencari nafkah.
2.3.2     Kultur
Kebudayaan yang masih sangat kental adalah “Sedekah Bumi” sedekah bumi ini mempunyai artian perwujudan rasa syukur atas karunia yang diberikan tuhan berupa hasil panen yang melimpah kepada penduduk setempat. Untuk mewujudkan rasa syukur ini maka penduduk setempat mempunyai ritual yaitu mengumpulkan hasil panen bumi mereka jadi 1 lalu semuanya dibagi-bagikan kepada penduduk. Kebudayan lain yang masih berjalan di Bogorejo adalah kesenian tayub, kesenian wayang golek, dan rebana. Kebudayaan kesenian tayub ini berasal dari desa Gayam. Kesenian tayub ini dilaksanakan saat masyarakat punya “gawe”. “Gawe” yang dalam bahasa jawa yang berarti orang yang mempunyai pekerjaan, misalnya dengan mengadakan acara syukuran, nikahan, maupun acara lain yang mengundang masyarakat sekitar dengan hiburan kesenian tayub. Kesenian lain tadi adalah kesenian wayang. Ada salah satu warga di salah satu desa yaitu Desa Tempurejo yang terkenal sebagai pembuat wayang golek, namun hasil karya wayang tadi tidak untuk dipasarkan keluar, melainkan hanya digunakan saat penampilan kesenian wayang golek di desa tersebut.
2.3.3     Kondisi Sosial
Bidang sosial merupakan salah satu karakteristik non fisik yang ada dalam suatu wilayah. Dapat diwujudkan dalam fasilitas berupa fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan serta dapat diwujudkan dalam karakteristik warga dalam berkomunikasi terhadap warga lainnya. Pada bidang sosial, terdapat sebuah program bernama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat secara mandiri. Dimana sebuah desa akan mendapatkan dana untuk pengembangan desanya dengan proses seleksi. Guna menunjang kegiatan penduduk Desa Gayam, dana PNPM yang didapat dialokasikan untuk bidang pembangunan. Dana PNPM melibatkan partisipasi masyarakat agar pengajuan pembangunan dapat terealisasi. Seperti yang dijelaskan Bapak Supangat bahwa sudah 2 tahun terakhir ini Desa Gayam tidak mendapatkan dana PNPM, kemungkinan disebabkan oleh kurang tersosialisasi kegiatan ini ke masyarakat. Realisasi dari dana PNPM yang telah diterima sebelumnya digunakan untuk perbaikan jalan dan pembangunan gedung TPQ, begitu seperti yang dijelaskan oleh bapak perangkat Desa Gayam.
Hal tersebut berbeda penerapannya di Desa Tempurejo. Desa tersebut memanfaatkan dana PNPM yang didapat untuk pembangunan fisik berupa rabat beton yang didapatkan pada tahun 2010 serta program simpan pinjam. Selain pembangunan fisik dan program simpan pinjam, Desa Tempurejo memiliki program Pamsimas dan program kejar paket. Program kejar paket tersebut bertujuan untuk pemberantasan buta huruf yang kurang lebih 5% dari jumlah penduduk Desa Tempurejo, sehingga pada tahun 2008-2009 Desa Tempurejo ini bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Blora untuk pemberantasan buta huruf.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Desa Gandu. Desa tersebut memanfaatkan dana PNPM untuk pembangunan desanya. Dalam hal partisipasi masyarakat, program PNPM Desa Gandu telah melewati berbagai tahapan. Tahap pertama yaitu sosialisasi berupa penyebarluasan informasi kepada masyarakat mengenai pelaksanaan kegiatan, sekaligus penyamaan pemahaman dalam proses dialog berbagai komponen masyarakat di Desa Gandu. Tahap selanjutnya yaitu rembug masyarakat yang berupa ajang pembelajaran masyarakat untuk terbuka, melakukan diskusi konstruktif, menyusun langkah dan saling asah asih asuh dalam rangka mencari solusi atas kemiskinan dan ketidakmampuan masyarakat untuk membangun infrastruktur di Desa Gandu. Langkah selanjutnya yaitu pemetaan swadaya yang berupa proses pembelajaran identifikasi sebab-sebab kemiskinan, menyusun dan menyepakati tolak ukur kemiskinan serta langkah-langkah penanggulangan kemiskinan. Tahapan keempat yaitu pada Desa Gandu telah terbentuk lembaga komunitas yang mengakar, representatif, dan akuntabel sebagai wadah menyalurkan aspirasi masyarakat. Tahapan terakhir yaitu penyaluran dana bantuan langsung masyarakat (BLM) yang berupa proses pembelajaran masyarakat untuk melaksanakan kegiatan tridaya yang sudah direncanakan dalam PJM Pronangkis sekaligus untuk membangun akuntabilitas dalam pemanfaatan dana BLM sebagai modal melakukan kemitraan.
Desa Bogorejo juga tidak jauh berbeda dengan desa-desa sebelumnya pada masalah PNPM. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang didapat  diwujudkan dalam bentuk Gedung TK dan Gedung PAUD. Meskipun Desa Bogorejo merupakan ibukota kecamatan, permasalahan air dan infrastruktur tetap menjadi permasalahan utama. Pada bidang sosial khususnya masalah yang menonojol adalah masih ada beberapa rumah warga yang tidak memiliki MCK. Padahal MCK merupakan hal yang penting dalam pembuatan rumah. Dengan tidak adanya MCK di rumah warga, taraf kesehatan pun menurun.
Kondisi Sosial yang berbeda ditunjukkan di Desa Nglengkir. Contoh nyata yang ada di Desa Nglengkir adalah dalam memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau panjang, di satu sisi mayoritas penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani harus mengalirkan sebagian persediaan air untuk mengairi lahan pertanian. Di sisi yang lain persediaan air yang ada juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat yang lain. Diperlukan penataan ruang yang bijak agar berbagai kebutuhan dan kegiatan itu dapat berjalan dengan baik tanpa saling mengganggu satu sama lain, atau paling tidak konflik yang mungkin muncul dapat diminimalisir. Harus diusahakan keseimbangan dan keserasian serta tidak melampaui daya dukung lingkungannya.
PNPM Perdesaan yang diajukan dari Desa Karang adalah pembangunan jalan rabat beton dan gedung TK. PNPM ini dilaksanakan dengan mengajak seluruh anggota masyarakat diajak terlibat dalam setiap tahapan kegiatan secara partisipatif, mulai dari proses perencanaan, pengambilan keputusan dalam penggunaan dan pengelolaan dana sesuai kebutuhan paling prioritas di desa tersebut, sampai pada pelaksanaan kegiatan dan pelestariannya.
Berbeda dengan Desa Karanganyar yang menggunakan dana PNPM untuk pembangunan drainase. Hal tersebut disebabkan karena Desa Karanganyar memiliki masalah genangan air di tengah-tengah desa yang tidak dapat mengalir karena buruknya keadaan drainase di desa tersebut. Selain PNPM, bidang pendidikan juga menjadi sorotan. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk di Desa Karanganyar tergolong rendah. Rata-rata hanya mampu hingga tingkat SMP, meskipun begitu ada beberapa penduduk yang mampu memenuhi tingkat pendidikan sampai jenjang SMA maupun perguruan tinggi. Masalah yang muncul adalah warga yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi tersebut, tidak mau bekerja di Desa Karanganyar dan lebih memilih merantau ke kota.
Kondisi yang dama juga terjadi di Desa Jeruk. Tingkat pendidikan yang hanya sebatas sampai Sekolah Menengah Atas saja dan hanya sebagian kecil dari warganya yang ingin melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi. Kebanyakan warga  yang sudah tamat sekolah lebih memilih keluar desa untuk mencari pekerjaan yang lebih baik namun ada juga sebagian warganya yang tetap tinggal di desa dengan diberikan kegiatan oleh kelompok tani. Sesuai dengan keadaan tersebut, organisasi pemuda yang ada di Desa Jeruk bisa dikatakan tidak aktif lagi. Kegiatan masyarakat Jeruk yang masih terus berjalan hingga saat ini adalah kegiatan keagamaan seperti pengajian ibu-ibu ataupun bapak-bapak. Rembug desa juga kerap kali dilaksanaan ketika akan diadakannya kegiatan di Desa Jeruk. Sedangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang diajukan adalah jalan rabat beton. Program PNPM Mandiri ini telah dilaksanakan sejak tahun 2009. Untuk tahun 2010 hinggga 2011 Desa Jeruk juga mengajukan PNPM berupa jalan rabat beton. Pembuatan rabat beton ini lebih diutamakan untuk jalan desa yang menghubungkan fasilitas-fasilitas yang ada di Desa Jeruk seperti sekolahan, kantor desa, masjid dan mushola.
Desa Jurangjero juga mengajukan PNPM berupa jalan rabat beton. Hal ini nampak dari sebagian besar jalan desa yang ada di Desa Jurangjero ini sudah berupa beton. Selain itu, pada tanggal 23 Mei 2012 hingga 12 Juni 2012 sedang diadakan kegiatan tentara masuk desa atau lebih dikenal dengan sebutan TMMD. Kegiatan para tentara ini adalah membantu masyarakat membangun fasilitas umum untuk mensejahterakan Desa Jurangjero ini seperti pembuatan jalan rabat beton dan pendirian mushola dan masjid.
Kegiatan sosial yanga ada di Desa Sendangrejo adalah, adanya pengobatan gratis dari Bandung yang memiliki tujuan agar masyarakat di Desa Sendangrejo lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.
Secara keseluruhan, Kecamatan Bogorejo memiliki karakteristik desa masih sangat terlihat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sifat gotong royong dan rukun antar warganya masih sangat terasa. Selain itu organisasi atau kelembagaan yang ada biasa nya dilakukan rembuk desa setiap 1 bulan sekali, selain tu juga ada LKMD yaitu Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa. Lembaga Kemasyarakatan yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat, merupakan wahana partisipasi dan aspirasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan yang bertumpu pada masyarakat.
2.3.4    Pemerintahan
Kecamatan Bogorejo terdiri dari 14 Desa dengan total jumlah RW adalah 39 RW dan dari 194 RW ini terdapat 194 RT. Kecamatan Bogorejo dipimpin oleh seorang Camat yang mengepalai 14 Kades. Setiap Camat memiliki masa jabatan 5 tahun dan kades memiliki masa jabatan 3 tahun. Camat dan Kades dipilih langsung oleh rakyat. Sedikit berbeda dengan ketua RW, seorang ketua RW dipilih oleh masyarakat secara langsung, namun tidak ada penentuan masa jabatan yang jelas. Hal ini berarti bahwa pergantian ketua RW dilakukan apabila dianggap sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya dengan baik.

KARAKTERISTIK KEGIATAN EKONOMI


2.2.3     Karakteristik Kegiatan Ekonomi
Dilihat dari PDRB Kabupaten Blora Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2008-2010, Kecamatan Bogorejo mengalami peningkatan perekonomian. Tahun 2009 Kecamatan Bogorejo mengalami peningkatan 5,96 % dari tahun 2008. Tahun 2010 mengalami peningkatan 4,71 % dari tahun 2009.


 
Jika dilihat dari PDRB ADHB, Kecamatan Bogorejo yang utama dicapai oleh sektor pertanian kemudian disusul oleh sektor perdagangan dan pada urutan ketiga yaitu sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Tidak berbeda jika dilihat berdasarkan PDRB ADHK, sektor utama yang dicapai Kecamatan Bogorejo adalah sektor pertanian. Hal ini dikarenakan penggunaan lahan terluas di Kecamatan Bogorejo merupakan lahan pertanian.
Desa Sendangrejo, merupakan salah satu desa berada pada Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora. Desa ini berada pada sekitar wisata alam yang berupa hutan dan bumi perkemahan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Hutan jati tersebut dikelola oleh dinas Perhutani. Namun yang terjadi ekowisata hutan tersebut kurang diminati oleh sebagian besar masyarakat. Kebijakan pengembangan ekowisata dikawasan perkotaan menyebabkan tingginya tingkat urbanisasi ke perkotaan. Sebaliknya dipihak lain, pasar-pasar tradisional menjadi semakin stagnan. Paradigma kebijakan program pembangunan wisata tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah perkotaan saja, namun sudah semestinya melirik wilayah perdesaan. Dengan begitu, konsentrasi “kue pembangunan” tidak hanya dinikmati oleh penduduk dan masyarakat perkotaan saja, tetapi juga dapat dinikmati oleh masyarakat perdesaan yang bertempat tinggal dikawasan yang jauh dari gemerlap dan hingar bingarnya kehidupan perkotaan. Ini sangat penting diperhatikan mengingat perlunya perubahan kebijakan yang lebih memperhatikan kehidupan masyarakat perdesaan salah satu harapan dengan adanya perubahan kebijakan itu adalah berkaitan dengan kebijakan pemerintah dibidang pengembangan pariwisata yang terdapat dimasyarakat perdesaan, khususnya wisata lingkungan. Tujuannya adalah menciptakan kesempatan dan peluang kerja bagi masyarakat yang mendiami wilayah perdesaan, dalam kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan mereka. Salah satu program pemerintah yang berkaitan langsung dengan masyarakat perdesaan adalah meningkatkan sektor wisata lingkungan dan agrowisata yang diharapkan mampu memberi kontribusi pada pengembangan wilayah perdesaan. Namun dalam kenyataannya tetap muncul kendala-kendala sebagai akibat kurang sinerginya kebijakan pemerintah atau kata lain masih egosektoral, dalam arti kurangnya koordinasi dan integrasi antara kebijakan dan peraturan yang diimplementasikannya. Hal ini akan berdampak pada masih munculnya keragu-raguan dari berbagai pihak yang berminat berinvestasi disektor pariwisata, terutama dengan masih belum jelas atau tumpang tindihnya berbagai peraturan yang berkaitan dengan masalah penataan tata ruang pada kawasan yang dianggap berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.
Membahas pengembangan ekowisata dimasyarakat perdesaan Sendangrejo yang merupakan wilayah perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Jawa Timur, dirasakan sangat signifikan. Kesan-kesan negatif yang tercipta sebagai akibat wilayah perbatasan yang dijadikan sebagai lalu lalangnya masalah pembalakan hutan (illegal logging) dan penyelundupan. Pengembangan berbagai potensi wilayah perbatasan yang ada perlu diperhatikan baik dari aspek modal sosialnya, potensi ekonomi yang dapat dikembangkan; dan juga mengenai potensi sumber daya manusia yang tersedia.       

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KECAMATAN BOGOREJO

2.2.3     Karakteristik Populasi atau Demografi
Berdasarkan data demografi tahun 2010, Kecamatan Bogorejo dengan luas wilayah 4,960 Ha memiliki jumlah penduduk sebesar 23.548 jiwa. Jumlah ini menurun dari tahun 2009 yang jumlahnya sebesar 24.296 jiwa. Pertumbuhan penduduk di Kecamatan Bogorejo tergolong rendah, hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk usia muda dan tua relatif sama







Desa Nglengkir memiliki jumlah penduduk terbanyak dibandingkan dengan desa-desa lain yang ada di Kecamatan Bogorejo. Desa Nglengkir ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.272 jiwa dengan luas desa sebesar 847 Ha. Meskipun Desa Nglengkir ini merupakan desa dengan penduduk terbanyak, namun desa ini bukan menjadi desa yang terpadat. Kepadatan Desa Nglengkir ini sebesar 3,86 jiwa/Ha. Tingkat kelahiran di Desa Nglengkir cukup tinggi apabila dibandingkan dengan desa-desa lain. Hal ini terbukti dari jumlah penduduk pada kelompok umur 0-4 yang cukup besar yaitu 190 jiwa. Penduduk di desa ini didominasi oleh penduduk dengan kelompok umur 15-19 tahun. Penduduk dengan kelompok umur 20-24 tahun terbilang sedikit karena pada umumnya mereka merantau keluar daerah bahkan keluar kota untuk waktu yang relatif lama. 
Berbanding terbalik dengan Desa Nglengkir, Desa Karanganyar merupakan desa dengan jumlah penduduk paling sedikit. Desa Karanganyar ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 518 jiwa dengan luas wilayah sebesar 154 Ha. Kepadatan pada Desa Karanganyar ini hanya sebesar 3,36 jiwa/Ha. Penduduk Desa Karanganyar didominasi oleh penduduk dengan kelompok umur 45-49 tahun. Sebagian besar penduduk pada kelompok umur tersebut bermatapencaharian sebagai petani kecil. Tingkat kematiannya dapat dikatakan cukup tinggi karena jumlah penduduk pada kelompok umur 70-74 tergolong sedikit. 
 

Desa dengan kepadatan tertinggi berada pada Desa Jeruk. Desa Jeruk memiliki kepadatan 7,28 jiwa/Ha dengan jumlah penduduk 1194 jiwa dan luas wilayah sebesar 164 Ha. Mayoritas penduduk di Desa Jeruk merupakan penduduk dengan kelompok umur 35-39 tahun. Penduduk dengan kelompok umur 20-24 tergolong sedikit karena rata-rata penduduk pada usia ini pergi merantau keluar kota.

KARAKTERISTIK PENGGUNAAN LAHAN


2.2.2     Karakteristik Penggunaan Lahan
Kecamatan Bogorejo ini memiliki luas wilayah 4.980 Ha. Berdasarkan peta tata guna lahan Kecamatan Bogorejo, sebagian besar penggunaan lahan di setiap desa berupa tegalan dan sawah.
Penggunaan lahan untuk permukiman yang paling luas berada di Desa Tempurejo. Hal ini didukung oleh topografi Desa Tempurejo yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah datar. Selain itu, Desa Tempurejo memiliki jenis tanah mediterania yang tidak cocok untuk lahan pertanian sehingga penggunaan lahannya lebih dialokasikan untuk permukiman. Ditambah lagi berdasarkan karakteristik wilayahnya, Desa Tempurejo memiliki pegunungan kapur yang menarik orang-orang untuk bermukim di Desa Tempurejo.

KARAKTERISTIK FISIK ALAMIAH


2.2.1      Karakteristik Fisik Alamiah Wilayah
a.              Topografi
Kecamatan Bogorejo merupakan wilayah yang memiliki topografi yang datar, landai sampai yang sangat curam dengan kelerengan antara 0-2%, 2-15%, 15-40% dan >40%. Kondisi terebut dikarenakan desa-desa di Kecamatan Bogorejo memiliki variasi topografi, yang menyebabkan semakin bervariasinya peruntukkan lahan yang terdapat di Kecamatan Bogorejo. Jika dibandingkan dengan daerah lain yang hanya berkontur datar maupun pegunungan, penduduk lebih memiliki mata pencaharian yang lebih bervariatif.Sebagian besar wilayah Kecamatan Bogorejo terdiri dari topografi datar, landai dan curam. Ketinggian tanah di Kecamatan Bogorejo yang diukur dari permukaan laut bermacam-macam yaitu ada daerah dengan ketinggian 200, 300, 400 dan 450 meter dpl.
b.             Jenis Tanah
Jenis tanah yang ada di Kecamatan Bogorejo yaitu mediterania dan grumosol. Jenis tanah mediteran adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan kapur dan bersifat tidak subur. Yang menjadi masalah utama jenis tanah ini adalah ketersediaan air. Oleh karena itu, jenis tanah ini tidak cocok untuk untuk dijadikan lahan pertanian. Sedangkan jenis tanah grumosol tanah yang terbentuk dari material halus berlempung. Jenis tanah ini berwarna kelabu hitam dan bersifat subur. Jenis tanah ini berada di Desa Plantaan, Desa Gombang dan beberapa berada di Desa Sarirejo, Desa Karanganyar, Desa Karang, Desa Jeruk dan Desa Bogorejo.
c.              Klimatologi
Kecamatan Bogorejo memiliki curah hujan yang berkisar antara 2000 hingga 2500 mm/th sehingga termasuk ke dalam intensitas curah hujan rendah.
d.             Kondisi Lingkungan
Di Kecamatan Bogorejo ini terdapat kawasan karst pegunungan kapur utara dan beberapa goa yang tepatnya terletak di Desa Nglengkir. Goa-goa tersebut terbentuk dari patahan sedimen akibat sesar yang memiliki panjang rata-rata 30-50 meter dan ketinggian 6-10 meter. Keberadaan goa tersebut dijadikan sumber air yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk kebutuhan sehari-hari.
Kecamatan Bogorejo juga memiliki bendungan yang cukup besar yaitu Bendungan Goa Landak. Bendungan ini berada di perbatasan 3 desa yaitu Desa Karanganyar, Desa Nglengkir, dan Desa Karang. Bendungan ini dimanfaatkan sebagai sarana irigasi di sekitar bendungan. Karakter unik lainnya yaitu Desa Sarirejo di Kecamatan Bogorejo memiliki wilayah dengan
kontur yang berbeda. Sebelah utara  Desa Sarirejo merupakan wilayah berkontur tinggi yang berupa tegalan, sedangkan sebelah selatan merupakan wilayah berkontur rendah yang berupa pemukiman penduduk serta area persawahan tadah hujan.

KONTEKS KECAMATAN BOGOREJO

2.1      Konteks Kecamatan Bogorejo
2.1.1       Posisi Geografis
Kecamatan Bogorejo memiliki letak geografis pada 1110210-1110248 BT dan 60928-70230 LS. Kecamatan ini merupakan salah satu dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora yang terdiri dari 14 desa. Kecamatan Bogorejo memiliki batas administrasi sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sebelah selatan Kecamatan Bogorejo berbatasan dengan Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

2.1.2      Konstelasi dalam Ruang yang Lebih Luas
Kecamatan Bogorejo bila dilihat dalam hubungannya yang lebih luas berkaitan dengan Kabupaten Blora. Kecamatan yang memiliki luas wilayah 4.980 Ha ini merupakan daerah pinggiran atau hinterland dari Kabupaten Blora. Menurut RTRW, Kecamatan Bogorejo termasuk dalam sistem perwilayahan pembangunan yang berpusat di Kecamatan Blora dengan wilayah pelayanan berada di Kecamatan Blora, Kecamatan Jepon, Kecamatan Bogorejo, Kecamatan Jiken, Kecamatan Tunjungan, dan Kecamatan Bandarejo. Kecamatan Bogorejo memiliki fungsi kawasan sebagai kegiatan industri. Kecamatan Bogorejo telah menjadi peruntukan kawasan industri sedang yang berfungsi sebagai pemasok barang untuk memenuhi kebutuhan skala Kabupaten Blora maupun tingkat regional.
Kecamatan Bogorejo merupakan salah satu komponen dalam sistem pedesaan pada Kabupaten Blora. Kecamatan Bogorejo merupakan Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dengan fungsi pertanian, pertambangan, dan pemukiman bagi Kabupaten Blora. Kecamatan ini juga menjadi kawasan resapan air yang berada di kawasan sungai. Kawasan tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap kawasan di bawahnya.
Sesuai dengan fungsi pertaniannya, hasil pertanian Kecamatan Bogorejo berupa cabai merah dan bawang merah dengan luas lahan kurang lebih 1.490 Ha yang merupakan komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada di Kecamatan Bogorejo maupun masyarakat yang ada di kecamatan lainnya. Dalam sektor pertambangan Kecamatan Bogorejo menghasilkan batu gamping, pasir kuarsa, dan batu lempung. Hasil tersebut didistribusikan ke luar wilayah Bogorejo.