Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Bab 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bab 3. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

PRAKIRAAN PERKEMBANGAN PERMASALAHAN: KECENDERUNGAN


3.4.1     Kecenderungan
Kecenderungan perkembangan permasalahan pada Wilayah Bogorejo yaitu terjadinya ketimpangan antardesa. Disparitas pembangunan merupakan masalah pembangunan antar-wilayah yang tidak merata. Kesenjangan-kesenjangan yang terjadi karena pembangunan terpusat/terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan, sementara wilayah hinterland mengalami pengurasan sumberdaya yang berlebihan. Secara makro dapat kita lihat terjadinya ketimpangan pembangunan yang signifikan, seperti antar desa-kota di wilayah Blora.
Kesenjangan ini pada akhirnya menimbulkan permasalahan yang dalam konteks makro sangat merugikan proses pembangunan yang ingin dicapai. Ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah/kawasan di satu sisi terjadi dalam bentuk buruknya distribusi dan alokasi pemanfaatan sumberdaya yang menciptakan inefisiensi dan tidak optimalnya sistem ekonomi. Di sisi lai, potensi konflik terjadi sedemikian besar karena wilayah-wilayah yang dulunya kurang tersentuh pembangunan mula menuntut hak-haknya. Ketidakseimbangan pembangunan menghasilkan struktur hubungan antarwilayah yang membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah. Wilayah/kawasan hinterland menjadil lemah karena pengurasan sumberdaya yang berlebihan (backwash), yang mengakibatkan aliran bersih dan akumulasi nilai tambah tertuju ke pusat-pusat pembangunan secara masif dan berlebihan sehingga terjadi akumulasi nilai tambah di kawasan-kawasan pusat pertumbuhan. 

Senin, 16 Juli 2012

PRAKIRAAN PERKEMBANGAN MASALAH: SKENARIO


3.4.1     Skenario Perkembangan Kecamatan Bogorejo
·                Optimis
Kecamatan Bogorejo menjadi kecamatan yang mandiri dalam pengelolaan sumberdaya alam.
Potensi alam yang dimiliki Kecamatan Bogorejo sangat beragam, apabila SDM yang ada mampu mengelola sumber daya alam yang ada maka Kecamatan Bogorejo berpotensi menjadi kecamatan yang mandiri di Kabupaten Blora.
Hal tersebut berdampak pada  
1. Masyarakat dapat mengelola dan mengolah hasil tani untuk kebutuhan sendiri dan menjual ke daerah di sekitar Kecamatan Bogorejo.
2.    Lahan pertanian akan lebih produktif dengan pengelolaan yang optimal dan modern.
3.  Industri batu marmer yang ada dapat berkembang karena bahan baku yang dibutuhkan tersedia di Kecamatan Bogorejo.
4.    Hutan yang ada dapat dimanfaatkan dan diolah oleh masyarakat Bogorejo.
5.    Dapat dikembangkan bumi perkemahan ekowisata tingkat kebupaten.
6. Industri meubel dapat meningkatkan produksinya dari potensi hutan dan SDM yang terampil.
7.    Warga Kecamatan Bogorejo lebih inovatif dalam peningkatan ekonomi wilayah.
Kondisi tersebut dapat terjadi apabila
1.  Sumber daya alam yang ada dikekola secara optimal tanpa mengorbankan dan merusak lingkungan.
2. Masyarakat diberi penyuluhan dan pembekalan keterampilah dalam mengembangkan potensi alam yang ada.
3. Perbaikan kondisi infrastruktur sebagai nadi dalam distribusi hasil bumi.
4. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dengan membuat lembaga-lembaga yang mampu menaungi dan membimbing aspirasi masyarakat.
.
·                Status Quo
Keterbatasan pengetahuan masyarakat di Kecamatan Bogorejo menjadi penghambat untuk mencapai kecamatan yang mandiri dalam pengelolaan sumberdaya alam.

Hal tersebut akan berdampak pada
Pengelolaan sumber daya alam yang ada menjadi kurang optimal dan produktivitas wilayah menjadi tidak stabil sehingga tidak mampu meningkatkan perekonomian lokal.
Kondisi tersebut dapat terjadi apabila
Tidak ada upaya dari pemerintah dan dari masing-masing warga Kecamatan Bogorejo untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di Kecamatan Bogorejo.
·                Pesimis
Kecamatan Bogorejo tidak dapat menjadi kecamatan yang mandiri dalam pengelolaan sumberdaya alam.”
Hal tersebut berdampak pada
1.     Masyarakat tidak dapat mengelola dan mengolah hasil tani untuk kebutuhan sendiri dan menjual ke daerah di sekitar Kecamatan Bogorejo.
2.    Lahan pertanian menjadi kurang  produktif karena pengelolan yang konvensional.
3. Industri batu marmer yang ada tidak dapat berkembang meskipun bahan baku yang dibutuhkan tersedia di Kecamatan Bogorejo.
4. Hutan yang ada menjadi tidak produktif karena tidak dimanfaatkan dan diolah oleh masyarakat Bogorejo.
5.    Tidak dapat dikembangkan bumi perkemahan ekowisata tingkat kebupaten.
6.    Industri meubel tidak dapat meningkatkan produksinya.
7. Warga Kecamatan Bogorejo sulit menerima inovasi dan perkembanganS dalam peningkatan ekonomi wilayah.
Kondisi tersebut dapat terjadi apabila
1.   Sumber daya alam yang ada tidak dikekola secara optimal.
2. Masyarakat tidak diberi penyuluhan dan pembekalan keterampilah dalam mengembangkan potensi alam yang ada.
3. Tidak dilakukannya perbaikan kondisi infrastruktur sebagai nadi dalam distribusi hasil bumi.
4. Pemerintah tidak berperan sebagai fasilitator dengan membuat lembaga-lembaga yang mampu menaungi dan membimbing aspirasi masyarakat.